Hakikat Nasihat

Hakikat Nasihat

Nasihat atau mau’izhah merupakan salah satu amal yang sangat agung dalam Islam. Ia bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah peringatan yang membangunkan hati dari kelalaian. Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad menjelaskan bahwa nasehat sejati adalah yang mampu membuka mata manusia terhadap kekurangannya, menyadarkan kelalaiannya, serta menghidupkan semangat taubat dan ketaatan kepada Allah.

Beliau memberi perumamaan yang indah: jika sebuah rumah terjang banjir dan penghuninya belum sadar, maka orang yang melihat tentu akan berteriak,

“Hati-hati! Cepat keluar dari rumah, selamatkan diri kalian!”

Dalam kondisi darurat seperti itu, tidak ada waktu untuk menyusun kata-kata indah atau permainan bahasa. Yang penting adalah menyelamatkan. Begitulah hakikat seorang pemberi nasihat.

1. Nasihat Bukan untuk Popularitas

Imam al-Ghazali mengingatkan, seorang da’i atau pemberi nasehat jangan sampai niatnya hanya ingin didengar, dipuji, atau dianggap hebat karena bisa membuat orang menangis di majelisnya. Itu semua hanyalah tipuan dunia.

Yang benar, tujuan nasehat adalah mengajak manusia dari cinta dunia menuju cinta akhirat, dari maksiat menuju taat, dari sifat kikir menuju dermawan, dari keraguan menuju yakin, dari lalai menuju sadar, dan dari tertipu menuju takwa.

Allah Ta‘ala berfirman:”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Adz-Dzariyat: 55)

2. Menanamkan Rasa Takut dan Harapan

Seorang pemberi nasihat harus menanamkan rasa takut kepada azab Allah sekaligus rasa harap akan rahmat-Nya. Jika hanya tekanan rahmat, manusia bisa terlena. Jika hanya tekanan azab, manusia bisa memutuskan asa. Maka yang benar adalah keseimbangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:”Seandainya seorang mukmin mengetahui betapa kerasnya azab Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang mengharap surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui betapa luasnya rahmat Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.”(HR. Muslim)

3. Perkataan Ulama dan Sahabat

Sayyidina Umar bin Khaththab r.a. berkata:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang untukmu.”
Perkataan ini sejalan dengan nasihat Imam al-Ghazali, bahwa mendengar nasihat bukan sekadar untuk terharu sesaat, tetapi agar kita sadar akan kekurangan diri lalu memperbaikinya.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga berkata:”Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari hilang, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

Maka setiap nasihat adalah kesempatan untuk menebus hari-hari yang telah berlalu dalam kelalaian.

Kisah Hikmah: Tangisan Umar bin Abdul Aziz

Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. suatu malam mendengar seorang qari membaca ayat:

“Dan berhentilah kamu sekalian (di Padang Mahsyar); sesungguhnya kamu akan diminta pertanggungjawaban.”
(QS. Ash-Shaffat: 24)

Beliau langsung menangis hingga basah janggutnya, lalu berkata:

“Demi Allah, betapa panjang perjalanan ini, dan betapa berat hisabnya.”

Inilah buah dari mendengar nasihat: hati menjadi hidup, sadar, dan terdorong untuk kembali kepada Allah.

Oleh : Ukhti Natasya Salsabila

(Alumni Pondok Pesantren Azzikra)

Editor : Ustadzah Fathimah Azzahra

(Guru Halaqah Qur’an Pesantren Azzikra)

Ukhti Natasya Salsabila
Ukhti Natasya Salsabila

Alumni Pesantren Azzikra Depok Tahun 2025 | Mengabdi di Pesantren Yatama & Dhuafa Azzikra Depok Tahun 2025-2026

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *