Zuhud dan Ridha

Zuhud dan Ridha

Kitab Ayyuhal Walad karya Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali رحمه الله merupakan risalah kecil namun sarat makna. Ditulis sebagai jawaban atas permintaan salah seorang muridnya, kitab ini berisi nasihat yang sangat menyentuh hati tentang bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu menata hidupnya. Nasihat Imam Al-Ghazali tidak hanya menekankan pentingnya ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu itu melahirkan amal, ikhlas, serta sikap zuhud dan ridha terhadap ketetapan Allah.

Salah satu bagian penting dalam kitab ini adalah renungan Imam Al-Ghazali terhadap firman Allah:

“مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ”
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Renungan Imam Al-Ghazali

  1. Meninggalkan keterikatan pada dunia
    Setelah merenungi ayat tersebut, Imam Al-Ghazali menyadari bahwa semua yang berada di tangan manusia akan sirna. Karena itu beliau memilih untuk tidak bergantung pada dunia, melainkan mengutamakan amal yang akan kekal di sisi Allah.

➝ Sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

  1. Lebih memilih memberi daripada menyimpan
    Imam Al-Ghazali lebih memilih menyerahkan hartanya kepada fakir miskin daripada menimbunnya. Beliau yakin bahwa harta yang disedekahkan akan berbuah pahala abadi, sementara harta yang ditahan justru fana.

➝ Dikuatkan oleh hadits Nabi ﷺ:
“Tidaklah harta itu berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

  1. Hakikat kemuliaan
    Sebagian manusia menganggap kemuliaan terletak pada pangkat, jabatan, dan harta. Namun Imam Al-Ghazali menyadari bahwa kemuliaan sejati adalah taqwa.

➝ Firman Allah:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

➝ Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata:
“Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan selain Islam, niscaya Allah akan hinakan kami.”

  1. Menjauhi hasud dan celaan
    Imam Al-Ghazali tidak mencela atau iri kepada orang lain meskipun mereka memiliki harta, pangkat, atau ilmu. Sebab beliau memahami bahwa semua itu adalah qismatullah (pembagian Allah).

➝ Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah berpesan:
“Ridhalah dengan apa yang Allah bagi untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”

  1. Ridha pada qismatullah
    Dengan menerima takdir dan pembagian Allah, Imam Al-Ghazali menemukan ketenangan. Ridha membuat hati lapang dan jauh dari kegelisahan.

➝ Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
“Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, maka ia hidup bahagia; barang siapa murka, maka ia hidup dalam kesempitan.”

Hikmah yang Bisa Dipetik

Ada sebuah kisah hikmah dari seorang salaf:
Seorang laki-laki mengeluh karena hidupnya sederhana, lalu gurunya berkata, “Jika seluruh dunia ini menjadi milikmu, lalu Allah cabut ridha dari hatimu, apakah engkau bahagia?” Ia menjawab, “Tidak.” Gurunya melanjutkan, “Jika dunia ini diambil darimu, tapi Allah tanamkan ridha dalam hatimu, apakah engkau sengsara?” Ia menjawab, “Tidak.” Gurunya menutup nasihatnya, “Maka ridha lebih berharga daripada dunia dan seisinya.”

Nasihat Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad memberi kita pelajaran bahwa hakikat hidup bukanlah menumpuk dunia, tetapi bagaimana mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dengan zuhud, ikhlas, dan ridha pada qismatullah, hati menjadi tenang, amal menjadi ikhlas, dan hidup menjadi bermakna. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan sifat ridha dan memberi taufik untuk selalu mendahulukan akhirat di atas dunia.

Oleh Ukhti Diva Alifia Nabila Bhayangkara

(Alumni Pesantren Az-Zikra Depok)

Editor : Ustadzah Siti Fatimatuzzahro

(Guru Halaqoh Qur’an Pesantren Az-Zikra)

Ukhti Diva Alifia
Ukhti Diva Alifia

Alumni Pesantren Azzikra Depok Tahun 2025 | Mengabdi di Pesantren Yatama & Dhuafa Azzikra Depok Tahun 2025-2026

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *