Ulama Karismatik Betawi Wafat, Pesantren Tahfidz Yatama Azzikra Depok Kehilangan Sosok Murabbi Penyayang


DEPOK — Suasana duka mendalam menyelimuti keluarga besar Pesantren Tahfidz Yatama Azzikra Depok. Guru besar sekaligus ulama karismatik asal Betawi, Abah Syakur, wafat dalam usia 94 tahun, pada hari Selasa 28 April 2026, jam 16.00. Kepergian sosok “guru dari para guru” ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi para ustaz, santri, hingga umat muslim di berbagai wilayah yang pernah beliau singgahi.

Ketua Harian Pesantren Tahfidz Yatama Azzikra Depok, Ustaz Muhammad Suswan Hadi, menyampaikan rasa kehilangan yang luar biasa atas berpulangnya almarhum.

“Kami mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di Firdausil A’la. Beliau bukan sekadar guru, melainkan seorang murabbi, pendidik, dan orang tua yang paling sepuh di antara kami. Tutur katanya selalu meneduhkan, mengayomi, membimbing, dan selalu mendoakan kami para guru, ustaz, dan santri,” ungkap Ustaz Muhammad Suswan Hadi.

Detail Kisah Keteladanan Almarhum

1. Istiqomah Menuntut dan Mengajarkan Ilmu

Meskipun di usia senja tubuhnya mulai melemah, semangat Abah Syakur tidak pernah pudar. Jarak perjalanan sekitar setengah hingga satu jam yang macet dari rumah menuju pesantren tidak menjadi halangan.

Bahkan dalam kondisi sakit, beliau tetap hadir membersamai santri—terkadang mengajar dari dalam mobil atau dengan bantuan kursi roda. Saat mengajar pun, beliau selalu membawa kitab sebagai dasar dalil yang kuat, bukan asal berbicara. Hal inilah yang harus menjadi refleksi dan teladan besar bagi para santri dan guru.

2. Menjaga Amalan, Sunnah, dan Ijazah Doa

Abah Syakur tidak hanya memberi teori, tetapi merupakan teladan hidup. Beliau selalu mengamalkan sendiri setiap wirid, amalan sunnah, dan ijazah doa yang beliau bagikan kepada para muridnya sebelum disarankan untuk diamalkan oleh orang lain.

3. Pembersihan Hati lewat Kitab Tanbihul Mughtarriin

Di masa-masa terakhirnya saat berjuang melawan sakit, beliau selalu memberikan support dan doa, serta aktif mengajarkan ilmu tasawuf melalui kitab Tanbihul Mughtarriin (Peringatan bagi Orang-orang yang Tertipu).

Nasihat dari kitab ini mengajarkan tentang kejernihan hati agar manusia tidak sombong dan merasa sudah baik dengan amal ibadahnya, padahal bisa jadi masih jauh dari rida Allah. Sifatnya yang mengajar dari hati membuat nasihat beliau selalu mendalam dan mengena.

Menjaga Sanad Keilmuan hingga Rasulullah SAW

Ustaz Muhammad Suswan Hadi yang sudah dianggap seperti anak dan kekasih sendiri oleh almarhum menegaskan bahwa pihak pesantren berkomitmen untuk terus menjaga hubungan silaturahim dengan istri dan keluarga besar Abah Syakur.

Memasuki tahun ajaran baru mendatang, putra almarhum, Ustaz Mawardi, dijadwalkan akan mulai mengajar di Pesantren Tahfidz Yatama Azzikra Depok untuk menggantikan posisi sang ayah.

Langkah ini diambil demi menjaga agar sanad keilmuan yang dimiliki oleh Abah Syakur—yang tersambung kuat hingga ke Baginda Rasulullah SAW—tetap terjaga, hidup, dan terus mengalir kepada para santri generasi berikutnya.

Oleh : Syafura Hukma Shabiyya dan Helma Nurhudaini
(Santri Pondok Pesantren Az Zikra Depok)

Editor : Ustadz Ahmad Yani
(Guru Diniyah Pondok Pesantren Az Zikra Depok)